SEJARAH BERDIRINYA MI MA’ARIF BUDILUHUR
KECAMATAN KERTEK KABUPATEN WONOSOBO
PERIODE KE 1 TAHUN 1939-1946
Membuka Madrasah Diniyah, di bawah asuhan Ustad Muh. Fatnan dan Sanusi
Efendi dengan pengurusnya Bapak Muh Badrodin, muh. Hobari dan Bapak Mubari Rusdi.
Tempat di rumah Ibu Hajah Ismail, jam belajar 14.00s/d 17.00.
PERIODE KE II TAHUN 1950-1056
Sebagai kelanjutan madrasah tersebut di buka lagi di bawah asuhan Bapak
Kyai Sya’roni, Bapak Umar Afif, Bapak Asrofi Syam’ani, Bapak Permadi. Adapun pengurusnya
adalah Bapak Abdulchalim sebagai ketua dan bapak Moeh Sjarbini Wakil Ketua
merangkap sekretaris, bertempat di rumah Ibu Hajah Ismail Gletosari sebelah
timur pasar Kertek, adapun waktu belajarnya mulai pukul 13.00 – 17.00. Biaya
penyelenggaraan, peralatan dan sarana belajar mengajar masih sangat sederhana,
uang syahriah seikhlasnya, tenaga mengajar tanpa upah. Dikarenakan guru maupun
pengurus merangkap kepengurusan organisasi NU, lagi pula turut andil dalam
mempertahankan kemerdekaan RI, aktif di medan pertempuran Fron Semarang Barat,
Timur dan Tengah, proses belajar mengajar jadi tersendat
PERIOD KE III TAHUN 1961-1970
Bapak Sarju dan Bapak Sjarbini membuka TK umum yang menamakan diri TK
Damai di bawah asuhan Ibu Sumiyati dari Dlanggu Solo, akhirnya TK tersebut
menjadi TK MD, karena Bapak Syarbini kurang dukungan sehingga TK
menjadi milik MD.
PERIODE KE IV TAHUN 1961-1969
Di samping rumah Bapak Moeh
Sjarbini digunakan TK kemudian dengan Bapak Khobarudin mendirikan Madrasah
Wajib Belajar (MWB) yang di asuh oleh Bapak Kun Khobaridin Bapak Salman Mlandi,
jam mengajar pukul 07.00 s/d 13.00. Pengurusnya hanya Bapak Moeh Sjarbini
Komaidi bersama Bapak Kun Khobarudin, dan seorang guru UGA Bapak Komaidi. Tempat
kelas I-II di rumah Bapak Moeh Sjarbini, kelas III-IV di rumah Bapak Amat Sabari
Mulyosari dan kelas V-VI di rumah Ibu Hajah Imail Gletosari.
PERIODE KE V TAHUN 1969-1975
Madrasah tersebut berjalan terus dalam masa jabatan penilik madrasah Bapak
Basirun dari Banjarnegara. Bapak Moeh Sjarbini selaku pengurus pada tahun 1963
menerima piagam bahwa madrasah statusnya diakui atau terdaftar. Kemudian ada
tambahan tenaga pengajar yaitu Bapak Sukirno, Bapak Ngajiyo, Bapak Ibnu Kafil,
Bapak Maktuf, Bapak Abdul Majid, Bapak Baedowi, Bapak Misbah, Bapak Asmawi, dan
Bapak Sonhaji. Sejumlah guru tersebut sebagian besar guru UGA belum
diangkat/belum menerima gaji. Untuk keperluan konsumsi diambilkan dari sebagian
sumbangan jimpitan warga NU, uang syahriah dan sebagaian besar hasil karya Bapak
Sjarbini yang bergelut di bidang music/orkes di beberapa tempat semata-mata
untuk mencukupi konsumsi para guru sehari-harinya.
Setiap tahun ajaran baru mengusahakan alat-alat mebelair, alat belajar
mengajar dan lain-lain, sebagian alat
mebelair sumbangan anak buah bapak sjarbini yang diajari Orkes Juga mengadakan publikasi di tempat-tempat jama’ah sholat Jum’at,
bila bertepatan bulan Romadhon bapak moeh sjarbini dan bapak ahmad amzat mengadakan
tarawih keliling yang dilakukan sebelum muhammadiyah di kertek berdiri,. Masih banyak
lagi perjuangan guru dan pengurusnya yang tidak bisa disebutkan dalam kisah
ini.
PERIODE KE VI TAHUN 1975-1991
Usaha Untuk Membuat Gedung Madrasah
Dengan berbagai upaya yang dilakukan oleh pengurus akhirnya bapak H.
Abdul Rosyid putra dari ibu hajah ismail agar dapatnya mewakafkan sebidang
tanahnya untuk 6 lokal gedung madrasah, kemudian diadakan peletakan batu
pertama/batas wakaf oleh bapak kyai Zainudin Tempel, seluas± 450 m2.
Selanjutnya karena 2/3 luas tanah adalah milik Pemda, mengajukan Izin
Hak Pakai kepada Bupati KDH. Masa jabatan bapak Heli Wibowo, Alhamdulillah berhasil.
PERIODE KE VII TAHUN 1991-2001
Periode ini merupakan keemasan namun cukup disayangkan nara sumber masih
sangat minim.
PERIODE KE VIII TAHUN 2001-2010
Pada masa ini merupakan masa
transisi di tengah masyarakat yang haus perubahan dengan reformasi sebagai
motor penggeraknya. Perubahan suhu politik, ekonomi sosial dan budaya ikut
mempengaruhi eksistensi madrasah. Sebagai salah satu elemen pendidikan nasional
madrasah mendapat perhatian cukup serius baik dari masyarakat maupun pemerintah
karena posisinya dianggap dapan menjadi benteng kokoh dengan semangat kemajuan
sains teknologi dan pertahanan idiologi, moral dan relegius. Dalam setiap sendi
kegiatannya merupakan perisai dari gempuran gelombang krisis moral yang dialami
bangsa Indonesia saat itu.
Periode ini MIMA Budiluhur dipimpin oleh bapak Hadi Sudaryo. Adanya
tuntutan peningkatan mutu pendidikan maka lahirlah kebijakan BOS (Bantuan
Operasional Sekolah) yang dapat meringankan beban biaya operasional pendidikan.
Selanjutnya posisi kepala kemudian dipegang oleh Bapak Drs. Sarbingi seorang
guru Pendidikan Agama Islam dari SD 3 Wonosobo. Kepempimpinan bapak sarbingi
tidak berlangsung lama karena beliau diangkat menjadi pengawas PAI yang
ditempatkan di Kecamatan Watumalang dan
digantikan oleh ibu Mu’minah S.Ag. pada
tahun 2006 sampai Agustus 2010. Pada masa
ini adminstrasi sudah mulai ditata, juga
adanya bantuan dari bank asia berupa MEDP loan sehingga sampai saat ini
ditinjau dari sarana prasarana mima budiluhur telah cukup layak untuk menjadi
sekolah unggulan. Mima Budiluhur didukung oleh 14 orang guru, 6 orang merupakan PNS, 6 orang
GTT serta 2 orang guru kontrak. Karena adanya rotasi PNS ibu MU’minah dipindahtugaskan
di MIMA Gondang Watumalang. Kepala Madrasah kemudian dipegang oleh Bapak Syafa’at,
S.Pd.I.M.Pd.I sampai saat ini. Sementara kepengurusan ketua dipegang KH. Mayar Hiban
sedang Ketua Komite Sekolah adalah Tambah Yuwono.S.Kom.
prfil yang sangat sempurna semoga para pejuang/pendahulu yg telah berusaha mencerdaskan bangsa di daerah ini mendapatkan rahmat dan balasam kemuliaan di dunia dan ahirat..
ReplyDelete